Hai i'm Avia Riska Syofiani

This is my first blog, so enjoy it.

aviariskasyofiani.blogspot.com

This is my first blog, so enjoy it.

Follow me on twitter @aviariska

This is my first blog, so enjoy it.

add my facebook Avia Riska Syofiani

This is my first blog, so enjoy it.

For the last i am a part of ISS'11 ITS

This is my first blog, so enjoy it.

Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Desember 2011

The Back Up Plan, Komedi Romantis yang Textbook.

          The Back Up Plan benar-benar mengikuti kaidah komedi romantis. Seorang pria bertemu wanita di taksi yang mereka tumpangi. Si wanita awalnya menolak si pria yang lama-lama bisa melelehkan hati si wanita. Mereka lalu berciuman lembut, berbagi lelucon dan seks, lalu tinggal bersama. Sebuah kesalahan yang memisahkan mereka terjadi dan konflik pun mencapai klimaksnya.
Selain mengikuti kaidah di atas, film ini juga melibatkan sebuah kehamilan yang terjadi lewat cara yang tidak biasa. Jennifer Lopez bermain sebagai Zoe, pemilik toko binatang peliharaan berumur 30an yang sudah menyerah dalam hal cinta. Dia menjalani inseminasi buatan agar bisa hamil, sebuah eksperimen yang berjalan mudah. 
Lalu Zoe bertemu Stan, pembuat keju yang diperankan oleh Alex O'Loughlin. Alex bukanlah seorang udik berpenampilan udik, dia adalah bergaya tipikal orang New York dengan postur layaknya model Calvin Klein. Alex menjual keju bikinannya ke para tetangga dan bermimpi untuk memiliki sebuah toko keju sendiri. Singkatnya, dia adalah Mr. Perfect. 
Zoe juga sangat menarik. Selain cantik, dia juga bekas pejabat perusahaan besar yang sekarang menangani acara-acara penandatanganan buku. Dia mempunyai anjing Boston terrier cacat yang selalu menyambut kedatangannya. 
Silakan menilai sendiri humor-humor yang ada di film ini: seorang ibu yang menyusui anak yang terlihat sudah terlalu tua untuk disusui, ibu bertato yang dalam proses melahirkan bayinya. Humor-humor yang lain terdiri dari bathroom humor dan lelucon menjijikkan tentang kelahiran. 
Kita melihat Lopez yang memang benar-benar sadar akan kelebihannya secara fisik. Dia tampil cukup menawan dan lebih bisa beradaptasi dibanding film komedi terakhir yang dia mainkan. O'Loughlin tampil biasa saja dan hanya membuat Lopez menonjol sendirian.  
Jika berbicara tentang komedi bertema kehamilan, maka Knocked Up dan Baby Mama menyampaikan lebih banyak kesan. The Back Up Plan disampaikan dengan gaya sitkom yang mudah ditebak sebelumnya

Rabu, 07 Desember 2011

The Kids are All Right

Sutradara : Lisa Cholodenko
Skenario : Lisa Cholodenko, Stuart Blumberg
Pemain : Annette Bening, Julianne Moore, Mark Ruffalo, Josh Hutcherson, Mia Wasikowska

Dalam The Kids Are All Right, sebuah film bagus garapan Lisa Cholodenko, anak-anak terlihat lebih dewasa dan bijaksana ketimbang orang dewasa yang bertanggung jawab terhadap mereka. Cholodenko dengan sangat anggun menjalin kejujuran yang blak-blakan dalam sebuah dongeng keluarga modern yang berusaha bertahan menghadapi sebuah perubahan.
Annete Bening dan Julianne Moore memerankan Nic dan Jules, sepasang lesbian yang membesarkan 2 anak remaja bernama Laser yang berusia 15 tahun (Josh Hutcherson) dan Joni (Mia Wasikowska) yang sudah 18 tahun. Ketenangan keluarga ini mulai terganggu ketika Laser dan Joni ingin mencari pria yang merupakan ayah biologis mereka. Sebagai informasi, Nic dan Jules donor sperma untuk hamil dan masing-masing melahirkan satu anak. Paul (Mark Ruffalo), seorang pengusaha restoran organik yang kharismatik dan bergaya hippie, ternyata merupakan sang pendonor sperma.
Semua tentang film ini terasa sangat akurat dan mulus. Mulai dari dialog sampai ke musical score. Film ini tidak semata-mata menunjukkan sepasang lesbian yang mempunyai keluarga tetapi lebih menitikberatkan pada masalah dan dilema yang mungkin saja dialami oleh keluarga konvensional. Cholodenko juga menyuguhkan naik turunnya emosi yang biasa dialami oleh remaja manapun juga, bukan cuma remaja yang mempunyai sepasang lesbian sebagai orang tua.
2 aktris terbaik di masanya memberikan penampilan kaliber Oscar. Bening tampil luar biasa sebagai dokter workaholic yang punya kemauan keras walaupun rapuh secara emosional. Moore tampil sempurna sebagai landscape designer yang punya pemikiran terbuka.
Ruffalo menunjukkan kedalaman peran sebagai seorang pria berkeinginan bebas. Dia berhasil membawakan karakter Paul yang tampan mempesona walaupun agak kekanak-kanakan. Hutcherson dan Wasikowska bermain bagus dan meyakinkan sebagai remaja sensitif dan sibuk mencari jatidiri mereka.
Ide tentang sepasang lesbian yang membesarkan anak memang terdengar sangat liberal dan sulit diterima di Indonesia. Bagaimanapun, The Kids Are All Right tetaplah sebuah film bagus dengan pesan yang bagus pula. Bahwa seorang anak tidak boleh dihalangi untuk mencari tahu tentang asal-usulnya.

Harry Potter and the Deathly Hallows:Part 1

Dalam Harry Potter and the Deathly Hallows Part 1, Harry, Ron, dan Hermione (Daniel Radcliffe, Rupert Grint, Emma Watson) bersiap untuk mencari dan menghancurkan Horcrux - kunci keabadian bagi Voldermort (Ralph Fiennes). Tetapi ada kekuatan jahat yang mengancam untuk menghancurkan mereka. Perang yang lama dikhawatirkan sudah terjadi dan Death Eaters yang setia pada Voldemort sudah menguasai Kementerian Sihir dan bahkan Hogwarts, meneror dan menangkap siapapun yang menghalangi mereka. Pengikut Voldemort mendapat perintah untuk mencari Harry dan menangkapnya hidup-hidup. Satu-satunya harapan Harry adalah menemukan Horcrux sebelum dia tertangkap. Saat melakukan pencarian, Harry malah mengungkap legenda tentang Deathly Hallows yang - jika benar - bisa memberi kekuatan bagi Voldemort. Harry Potter semakin dekat dengan sesuatu yang sudah dipersiapkannya: pertarungan puncak melawan Voldemort.
Film Harry Potter yang terakhir nampaknya ditujukan bagi para pecintanya, ada nuansa menyenangkan dan ekspektasi yang terpenuhi. Kekuatan film ini justru menjadi kelemahannya, yaitu cerita yang terlalu panjang (membagi film Harry Potter terakhir menjadi 2 bagian tetap membuatnya terlalu panjang). Kenyataan bahwa Harry tidak lagi berada di Hogwarts dan berpetualang di beberapa tempat - walau bagus - membuat kita merasa asing dan aneh. 
Efek yang bagus cukup mengurangi perasaan aneh itu. Hermione menjadi pusat perhatian di banyak bagian film. Ralph Fiennes - dengan wajah tanpa hidung dan kuku panjang menakutkan - adalah sebuah hadiah bagus untuk penonton. Penampilan teatrikal yang antusias dari Helena Bonham Carter sebagai Bellatrix Lestrange mampu menghidupkan suasana. Adegan yang menjadi highlight adalah saat Harry terperangkap di bawah es ketika dia menyelam untuk mengambil pedang Godric Gryffindor.  Film ini dipenuhi ide-ide hebat dan karakter-karakter bagus yang diwujudkan secara mendetil sesuai image yang ada di novelnya. Tetapi ceritanya kadang campur aduk dan membingungkan, tanpa adegan dramatis untuk menyambut bagian akhir yang megah.

Sutradara : David Yates
Skenario : Steve Kloves
Pemain : Daniel Radcliffe, Emma Watson, Rupert Grint, Ralph Fiennes, Helena Bonham Carter
 

Salt, Terjebak dalam Intrik Intelijen

Sutradara : Plillip Noyce, Skenario : Kurt Wimmer, Pemain : Angelina Jolie, Liev Schreiber, Chiwetel Ejiofor, Daniel Olbrychski, August Diehl 
           Ketika agen intelijen Rusia Orlov (Daniel Olbrychski) mengungkapkan bahwa perwira CIA Evelyn Salt (Angelina Jolie) adalah salah satu agen Rusia yang menyusup ke Amerika, Salt terpaksa harus kabur sambil berusaha menyelamatkan suaminya Mike (August Diehl). Kolega terdekatnya di CIA Ted Winter (Liev Schrieber) tidak bisa menolong sementara agen keamanan internal CIA Peabody (Chiwetel Ejiofor) menginginkan Salt diinterogasi - atau dibunuh. Salt harus mengerahkan segenap kemampuannya untuk menyelamatkan diri, lalu mengontak Orlov yang sedang menyiapkan Perang Dunia III.
            Action yang memacu adrenalin, penyutradaraan yang bagus, dan kebintangan Angelina Jolie membuat Salt menjadi salah satu film action thriller terbaik yang pernah ada. Dikelilingi bakat-bakat kelas satu, sutradara Phillip Noyce menjamu penonton dengan tontonan seru yang memadukan bahaya dengan glamor. Screenplay oleh Kurt Wimmer sangat pas - dengan Jolie yang "tancap gas" dalam peran yang menuntut kesiapan fisik. Tanpa sempat menarik napas, kita dilempar dalam sebuah plot pembunuhan yang membawa akibat-akibat politis di mana loyalitas, penipuan, dan balas dendam terjalin secara menarik.  Pahlawan atau kambing hitam? Banyak pertanyaan melintas seiring berjalannya film. Apakah Salt seorang agen Rusia yang ditugaskan membunuh Presiden Rusia? Apakah semuanya hanyalah kesalahan identitas? Ataukah ada penjelasan yang lebih kompleks?  Jolie tidak pernah tampil seperti karakter Evelyn Salt yang lemah, feminin, dan gampang disukai tetapi di saat yang bersamaan juga mematikan. Noyce benar-benar tahu cara membuat film action, sementara music score dari James Newton Howard mampu menjaga tensi tetap tinggi.

Harry Potter and the Deathly Hallows:Part 2

Sutradara : David Yates
Skenario  : Steve Kloves
Pemain : Daniel Redcliffe, Emma Watson, Rupert Grint, Ralph Fiennes, Alan Rickman
Pertempuran antara kekuatan baik dan jahat berkembang menjadi perang habis-habisan saat Harry Potter (Daniel Radcliffe) meneruskan usahanya untuk mencari Horcrux yang merupakan kunci untuk mengalahkan Voldemort (Ralph Fiennes). Bersama Ron (Rupert Grint) dan Hermione (Emma Watson), Harry menemukan legenda Deathly Hallows.
Bab terakhir serial Harry Potter, sekali lagi, menonjolkan efek yang kaya dan padat sehingga agak mengalahkan narasinya. Mereka yang belum membaca novelnya mungkin agak kebingungan mengikuti cerita film ini walaupun terlihat jelas bahwa film ini memang "diperuntukkan" bagi para fans fanatik Harry Potte yang pasti sudah hafal dengan segala lekuk liku cerita ini sejak kurang lebih 10 tahun yang lalu.
Cerita dimulai dengan berlanjutnya pencarian Horcrux yang tersisa oleh Harry, Ron, dan Hermione untuk bisa mengalahkan Voldermort. Adegan awal saat mereka berkelana di saat-saat genting melalui jurang terjal adalah momen emas di film ini. Makhluk-makhluk seperti goblin atau ular piton yang merayap mencari daging manusia tampil mengagumkan (walau mungkin juga menyeramkan bagi beberapa orang).
Mungkin kelemahan terbesar dalam Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 2 adalah interaksi antara karakter-karakter kunci terlalu sedikit diperlihatkan; film ini "hanya" mengandalkan ultimate duel antara Harry dan Voldermort. Ralph Fiennes sukses menghadirkan sosok villain yang berkarakter kuat, Voldermort yang menakutkan dengan wajah tak berhidung nan menjijikkan. Alan Rickman menggunakan waktunya di screen sebagai Profesor Snape dengan sangat baik dan memorable, sementara Maggie Smith tampil dalam form yang baik. Ada juga bumbu romansa, dengan ciuman antiklimaks antara Ron dan Hermione yang nampaknya sudah usai sebelum dimulai.
Banyak sekali ide yang berlompatan ke arah kita yang seringkali bercampur aduk dalam plot yang ramai yang sedikit mengabaikan sentuhan emosional. Bagaimanapun, para penggemar fanatik pasti puas menyaksikan Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 2.

Selasa, 06 Desember 2011

Momofuku Ando: Bapak Mie Instan


Siapa sih yang tidak tahu dengan makanan cepat saji yang disebut Mie instan? Pasti semua masyarakat mengenal produk ini, karena tidak hanya menjadi penyelamat di kala kelaparan dan butuh makanan cepat, mie instan juga sering kali jadi pilihan utama untuk bantuan saat bencana alam. Momofuku Ando adalah si jenius di balik penemuan mie yang bisa dengan cepatnya dimakan. Kenalan yuk sama Bapak yang suda mendedikasikan hidupnya buat mie instan ini!
Walaupun namanya sangat berbau Jepang, sebenarnya sosok pencipta mie instan ini adalah orang Taiwan. Momofuku Ando lahir dengan nama Wu Pai-fu pada tanggal 5 Maret 1910 di wilayah Kagi, Taiwan. Karena orangtuanya meninggal ketika masih kecil, dia pun dirawat oleh kakek neneknya yang adalah pengusaha tekstil. Pada usia 22 tahun, Ando mendirikan usaha tekstilnya sendiri dan sempat berkunjung ke Osaka untuk bisnis. Akhirnya setelah Perang Dunia II, Ando pindah ke Osaka dan menjadi warga negara Jepang. Dia pun mengganti namanya menjadi Momofuku Ando.
Saat itu Jepang masih menderita kekurangan makanan akibat Perang Dunia II. Oleh karena itu, Menteri Kesehatan mendorong orang-orang untuk makan gandum yang disediakan pihak Amerika Serikat. Ando pun bertanya-tanya, kenapa harus gandum, bukan mie yang jauh lebih populer di kalangan orang Jepang? Ternyata ini karena produksi mie yang kecil sehingga tidak bisa mencukupi kebutuhan. Dari sinilah kemudian tercetus ide membuat mie dalam kemasan yang bisa cepat dan mudah dimakan.
Akhirnya setelah beberapa kali melakukan percobaan, pada 25 Agustus 1958 Ando memasarkan mie instan pertamanya yang disebut Chikin Ramen (mie rasa ayam). Karena harganya yang cenderung masih mahal dibandingkan mie biasa saat itu, penjualannya pun kurang bagus. Tapi, setelah harganya menjadi lebih murah, semua orang pun mulai beralih ke mie instan. Pada tahun 2007, ada sekitar 98 milyar mie instan yang dijual di seluruh dunia di bawah merk Nissin milik Ando ini.
Untuk menghormati Ando, sebuah museum dengan nama Momofuku Ando Instant Ramen Museum didirikan di Osaka. Pada 5 Januari 2007 di sebuah rumah sakit Ikeda, Osaka, Ando meninggal dunia pada usia 96 tahun karena gagal jantung.

Wanita Tegar Penginspirasi Dunia

Hellen Adam Keller lahir sebagai anak yang sehat di Tuscumbia,Alabama, Amerika serikat pada 27 Juni 1880 disuatu tempat yang dikenal dengan nama “Ivy Green”. Dari ayahnya, ia merupakan keturunan Alexander Spottswood seorang gubernur colonial dari Virginia yang juga memiliki hubungan dengan keluarg-keluarga pahlawan Utara Amerika. Dari ibunya, ia memiliki hubungan darah dengan keluarga-keluarga new England termasuk Hales, Everetts dan Adamses. Ayahnya bernama Kapten Arthur Keller, seorang editor surat kabar North Alabamian. Kapten Arthur Keller juga memiliki ketertarikan yang kuat kepada kehidupan public dan merupakan orang yang berpengaruh dilingkungannya. Pada tahun 1885 dibawah administrasi Cleveland, ia diangkat menjadi Marshal untuk Alabama Utara.
Penyakit yang menimpa Helen keller pada saat berumur 19 bulan membuat ia menderita tuli dan buta sebelum ia mengetahui cara membaca dan menulis. Pada saat itu ia diduga mengidap demam otak dan mungkin saja sekarang lebih tepatnya dikenal dengan nama demam scarlet. Karena penyakitnya sejalan bersama pertumbuhannya, ia menjadi anak yang liar dan tidak patuh serta tidak mengenal dengan jelas dunia yang ada disekelilingnya.
Kehidupan Helen keller yang baru dimulai pada Maret 1887 ketika ia berumur kurang lebih 7 tahun. Hari itu merupakan hari yang paling penting yang selalu ia ingat dalam hidupnya, ia kedatangan seorang perempuan Anne Mansfield Sulivan dari Tuscumbia yang menjadi gurunya. Nona Sulivan, merupakan perempuan berumur 20-an lulusan Sekolah khusus orang buta bernama Perkin School. Ia merupakan orang yang mendapatkan penglihatannya kembali melalui serangkaian operasi. Ia datang atas unjuran simpatik Alexander Graham Bell yang merupakan kenalan keluarga Anne. Semenjak hari itu, edua orang tersebut, menjadi guru-murid yang tak terpisahkan hingga kematiannya pada awal 1936.
Nona Sullivan memulai tugasnya untuk mengubah anak yang tidak terkontrol menjadi sosok yang sukses dengan memberikan boneka yang merupakan buatan anak-anak dari sekolah Perkin (sekolah khusus orang cacat yang kemudian dibuat khusus untuk Helen). Dengan mengejakan d-o-l-l (boneka) melalui tangan , ia berharap dapat menghubungkan objek dengan huruf. Helen ternyata belajar dengan cepat dengan metode yang tepat pula, namun ia tidak tahu bagaimana cara untuk mengucapkan kata-kata. Selama beberapa hari, ia banyak belajar mengeja kata-kata baru namun dengan cara yang tidak dapat dimengerti oleh orang lain.
Suatu hari ia dan “guru”-panggilan Helen untuk Sullivan- pergi ke tempat sumur pompa terbuka. Nona Sullivan mulai memompakan air dan menaruh tangan Helen dibawah keran air tersebut. Begitu air menyentuh tangan Helen, ia mencoba untuk mengeja secara perlahan kata ‘w-a-t-e-r (air) melalui tangan helen yang satunya kemudian semakin cepat. Tiba-tiba, sinyal itu dapat dimengerti oleh pikiran Helen. Ia akhirnya tahu bahwa water (air) adalah zat dingin luar biasa yang mengalir ditangannya. Setelah ia mengerti, ia berhenti dan menyentuh tanah dan menanyakan ejaan untuknya. Pada saat malam tiba, ia sudah mempelajari 30 kata-kata baru.
Sewaktu ia mengecap pendidikan, ia belajar menguasai alphabet dengan cepat, baik manual maupun huruf timbul khusus bagi orang buta serta meningkatkan kemampuan membaca dan menulis. Di tahun 1890, ketika umurnya masih 10 tahun, ia mencoba untuk belajar berbicara. Entah bagaimana ia mengetahui bahwa seorang gadis buta tuli di Norway sudah dapat berbicara dengan baik. Nona Sarah Fuller di Horace Mann School merupakan orang pertama yang menjadi guru vokal untuknya.
Sejak ia masih kecil, ia selalu berkata suatu hari saya akan masuk perguruan tinggi dan akhirnya ia membuktikannya. Pada tahun 1898, ia berhasil masuk ke Cambrige school for young ladies sebelum akhirnya ia masuk ke Radcliffe College pada musin gugur 1900 dan menamatkan sekolahnya pada tahun 1904 dengan prestasi Cumlaude. Selama tahun-tahun berikutnya sampai ia meninggal di tahun 1936, Anne Sullivan selalu berada disampingnya, terus menerus mengeja buku demi buku, ceramah demi ceramah melalui tangan Helen.
Pendidikan formalnya berakhir sewaktu ia menerima gelar Sarjana Muda, namun selama hidupnya ia selalu belajar secara informal hal-hal yang penting bagi masyarakat moderen. Dengan pengetahuannya yang luas serta banyaknya pencapaian dibidang pendidikan, ia dianugerahkan gelar doktor kehormatan dari temple university dan harvard university seta dari universitas Glasgow di Skotlandia; Berlin, Jerman; Delhi, India; dan Witwatersran di Johannesburg Afrika Selatan. Ia juga merupakan peserta kehormatan untuk education institute di Scotland.
Pada tahun 1905, Anne Sullivan menikah dengan John Macy,seorang kritikus dan sosialis terkemuka. Pernikahan tersebut tidak merubah hubungan guru dan murid tersebut. Helen akhirnya tinggal bersama Anne dan suaminya. Keduanya terus memberikan waktu untuk pendidikan dan aktifitas Helen. Selama masih berstatus murid di Radcliffe, Helen memulai karir menulis yang kemudian ditekuninya selama hampir 50 tahun. Pada tahun 1903, The story of My Llife (kisah hidupku) muncul dalam bentuk cerita bersambung di Ladies Home Journal dan kemudian muncul dalam bentuk buku. Merupakan karya yang paling populer dan telah diterjemahkan ke dalam 50 bahasa termasuk Marathi, Pusthu, Tagalog dan Vedu. Juga dibuat dalam bentuk edisi buku tipis di Amerika Serikat. Publikasinya yang lain adalah : Optimis; An Essay; The World I Live In; The song of the stone wall; Out of the Dark; My Religion; Midstream- my later life; Peace at eventide; Helen Keller in Scotland; Helen Keller Journal; Let us have faith; Teacher, Anne Sullivan Macy dan the open door.
Helen Keller adalah wanita tegar yang menjadi inspirasi bagi Dunia, dan ia di kenal sebagai pejuang hak-hak wanita, pembela orang cacat serta pengarang produktif dan sukses. Helen Keller bisa membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak bisa mengekang manusia untuk sukses, selama ada keyakinan diri, kerja keras dan semangat.

Rabu, 23 November 2011

Letters To Juliet

Letters To Juliet (2010)
Genre : Drama
Sutradara : Gary Winick
Durasi    : 105 menit
Starring : Amanda Seyfried, Gael García Bernal, Vanessa Redgrave, Christopher Egan


           Sophie Hall, seorang pekerja fact checker di New York Times berlibur ke Itali bersama suaminya, Victor yang seorang koki. Setibanya di Italy, Victor sibuk dengan pekerjaannya sebagai koki. Ia sibuk menemui koleganya untuk mengembangkan usahanya yang baru saja Ia buka. Yaitu restoran Itali.
          Karena kesibukan Victor, Sophie mencari kesibukkan dengan berjalan-jalan keliling kota. Dan Ia menemukan sebuah tempat yang unik. Setibanya Ia di tempat unik itu, Ia melihat banyak orang yang sedang menangis dan menulis sesuatu lalu ditempel di tembok. Karena penasaran, Ia mengamati tempat itu sampai semua orang pergi. Lalu, ada seorang wanita yang mengambil kertas yang tertempel di dalam dinding tersebut. Karena Sophie masih juga penasaran dengan apa yang wanita itu lakukan, Ia mengikuti wanita itu.
Ternyata tempat itu adalah tempat untuk berkeluh kesah tentang masalah cinta. Setiap orang yang datang ke sana, menulis surat untuk mencurahkan isi hati mereka. Lalu, ada beberapa wanita yang bekerja sebagai sekretaris Juliet yang bertugas membalas surat-surat mereka. Maka dari itu, program ini bernama “Letters To Juliet.”
Sophie adalah seorang wanita yang gemar menulis. Ia mencoba menjadi salah satu dari sekretaris Juliet. Dan para wanita itu pun menyambut dengan baik inisiatif Sophie sebagai sekretaris. Pada suatu hari, Sohie menemukan surat yang berada di balik tembok. Surat itu ternyata telah berumur 50 tahun, ditulis oleh seorang Claire Smith. 50 tahun yang lalu, Claire berwisata ke Itali dan bertemu dengan seorang pria tampan bernama Lorenzo Bartolini. Karena sesuatu dan lain hal, Claire tidak bisa meneruskan cintanya kepada Lorenzo. Akan tetapi, Ia tidak bisa melupakan cintanya hingga 50 tahun lamanya.
Sophie lalu membalas surat itu. Tidak lama kemudian, respon baik datang dari Claire. Jauh-jauh dari London Claire datang ke Itali untuk menemui Claire dan meminta sarannya mengenai Lorenzo. Ia datang bersama cucunya yang tampan bernama Charlie. Setelah Claire diberi masukan oleh Sophie, akhirnya Ia memutuskan untuk mencari cinta sejatinya sampai dapat, yaitu Lorenzo. Dan perjalanan pun dimulai. Karena kesibukan Victor, suami Sophie yang makin padat jadi Ia diijinkan untuk menemani Claire dan Charlie dalam mencari Lorenzo
Dengan berbagai cara, mereka mencari Lorenzo bahkan mereka sampai mengetuk pintu rumah penduduk Itali satu persatu. Dengan semangat yang tak pernah surut, mereka tetap mencari kebaradaan Lorenzo walaupun mereka hamper berada di batas keputuasaan. Atas nama cinta, mereka tidak pernah menyerah untuk membantu memperjuangkan cinta Claire dan Lorenzo.

Alur film ini tidak rumit dan sangat cocok untuk mengisi waktu luang anda. Mata anda pun akan dimanjakan oleh pemandangan  Itali yang indah dan romansa antar pemain. Dibintangi oleh Amanda Seyfried yang biasanya berperan sebagai perempuan antagonis di film- film seperti Mean Girls, di film ini anda akan menemukan sisi yang beda dari wanita kelahiran tahun 1985 ini. Film ini tidak akan membuat anda bosan, karena karakter setiap pemain dibangun dengan baik oleh sang sutradara, Gary Winick. Film ini merupakan film yang ringan, tidak perlu menggunakan alur yang rumit dan cerita yang berat film ini pantas diberikan nilai 7/10.

Alangkah Lucunya Negeri Ini

Film yang disutradarai oleh aktor kawakan Deddi Mizwar ini di rilis pada bulan april 2010. Film ini sangat menginspirasi dan membuka peluang kajian dan telaah yang luas dan mendalam. Film ini dapat dipandang dari banyak kemungkinan aspek kehidupan seperti ideologi, politik, sosial, budaya, pendidikan, kriminalitas, generasi muda, dan agama. Film ini diselipi banyak cerita tentang fenomena-fenomena aneh nan lucu yang justru telah menjadi kebiasaan rakyat Indonesia. Karena orang-orang kalangan atas yang tak jarang kita paggil dengan sebutan wakil rakyat justru menambah kekayaannya dengan mencuri uang rakyat-rakyatnya. Sementara, orang-orang kalangan bawah seperti kita yang tak sadar bahwa uangnya telah dicuri oleh para petinggi negaranya justru mendatangi peramal gadungan di pasar untuk berkonsultasi tentang keadaan keuangannya. Tak cuma itu saja, masih banyak hal lain yang setelah kita pikir-pikir memang sering terjadi di negara ini dan digambarkan dengan lucu dalam film ini.
Sulitnya mencari pekerjaan di Indonesia walaupun kita telah berbekalkan ijazah S-1 tentu saja merupakan sebuah ide cerita yang menarik bagi kebanyakan orang. Negara ini memang lucu, pendidikan tinggi seakan bukanlah hal yang paling utama bagi seseorang yang ingin mendapatkan pekerjaan. Bahkan salah seorang pemeran dalam film ini mengatakan bahwa pendidikan itu penting jika ada koneksi. Film ini bermula dari Muluk (Reza Rahadian) seorang sarjana manajemen yang sudah 2 tahun menganggur dan hingga saat ini mecari pekerjaan dan tak kunjung mendapatkannya. Tekanan batin dirasakannya karena tuntutan dari calon mertuanya Haji sarbini (Jaja Miharja) dengan mengancam bahwa calon istrinya Pipit (Ratu Tika Bravani) akan dijodohkan dengan Jupri (Edwin Bejo).
Saat Muluk berkeliling mencari pekerjaan, dia bertemu dengan seorang anak yang mencopet yaitu Komet (angga Putra) yang ternyata memiliki kelompok lain di suatu markas. Mereka masih sangat kecil namun dapat mengambil dompet dari dalam tas pengunjung di pasar dan memindahkannya ke tangan anggota kelompok mencuri mereka yang lain dengan sangat lihai dan hampir tidak terlihat sama sekali. Hal tersebut menarik perhatian pengangguran yang padahal seorang sarjana ini untuk mengubah kehidupan para pencopet cilik itu dengan mengelola uang hasil mencopet mereka sesuai dengan ilmu yang didapatkannya di bangku kuliah. Dia berkenalan dengan anggota-anggota lainnya dan 3 kelompok diketuai oleh Glen (Moh. Irfan Siagian), Ribut (sakurta Ginting dan Komet sendiri. Disini Muluk berinisiatif untuk sedikit menyelipkan mereka dengan pendidikan. Muluk dan para pencopet itu melakukan perjanjian dengan memberikan 10% uangnya kepada muluk dan Muluk mengajarkan ilmu manajemen untuk mengatur keuangan. Selain itu juga Muluk mengambil sedikit kesempatan untuk mengajarkan sedikit agama dan kewarganegaraan dibantu oleh Pipit. Sangat menggugah hati ketika melihat bagaimana Muluk (Reza Rahadian) dan kawan-kawannya bisa mengubah para pencopet cilik untuk tidak lagi mencopet dan beralih usaha yang halal dengan cara yang revolusioner tetapi yang tidak kalah serunya adalah detail-detail minor seperti celetukan para bocah pencopet atau atmosfir sekitarnya . Sekali lagi gambaran buruk bangsa Indonesia yang sering kurang diperhatikan oleh diri kita sendiri diangkat dalam film ini. Tentang anak-anak jalanan yang seharusnya datang ke sekolah setiap pagi dengan seragam putih birunya untuk menuntut ilmu bukan menggunakan seragam putih biru untuk naik bus kota lalu mencopet dompet ibu-ibu yang duduk di bangku depan mereka.
Di sisi lain ayah Muluk yang bernama Pak Makbul (Dedi Mizwar) berdebat mengenai pentingnya pendidikan di Indonesia ini dengan calon besannya Haji Sarbini. Meskipun mencoba dilerai oleh Pak Rahmat (Slamet Raharjo) seorang tetua agama di daerah itu. Haji sarbini menganggap bahwa pendidikan bukan segala-galanya karena banyak orang yang kehidupannya mapan tanpa mengenyam pendidikan terlebih dahulu dan ia juga mencontohkan calon menantunya, Muluk yang hingga saat ini tak kunjung mendapatkan pekerjaan yang tetap. Perdebatan ini menimbulkan keinginan mereka untuk mencari tahu kegiatan anak-anaknya sehari hari. Disinilah awal konflik itu terjadi.
Aura kemiskinan, pengangguran, dan pencarian jalan pintas atau apatis juga hadir. Misalnya, Syamsul (Asrul Dahlan) yang hobi bermain gaple di pos ronda. Atau Pipit yang senang mengikuti kuis di televisi. Atau, sang ibu (Rina Hasyim) yang hanya duduk diam dirumah ditemani buku Teka Teki Silang (TTS). Selain itu juga cerita tentang Jupri yang menjadi calon anggota DPR yang di lecehkan masyarakat saat membagikan kaos kampanye. Konflik mulai memuncak ketika Pak Makbul, haji sarbini dan Pak Rahmat bersikeras untuk mencari dan mengunjungi tempat Pipit dan Muluk bekerja. Mereka sangat terkejut ketika mengetahui bahwa mereka bekerja untuk pencopet. Mereka bahkan beranggapan bahwa uang yang mereka peroleh adalah uang haram sehingga mereka memutuskan untuk berhenti mengajar anak-anak itu lagi. Disinilah makna tentang permasalahan agama juga nampak. Sangat lengkap dan melingkupi semua aspek permasalahan kehidupan di Indonesia ini.
Selain itu di akhir film juga muncul sebuah perkataan “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara” hal itu sesuai dengan pasal 34 UUD 1945 tapi buktinya mereka mencari cara sendiri untuk bertahan hidup dan memilih mencopet sebagai jalan keluarnya. Mereka tak peduli hal itu benar atau salah karena mereka tak pernah diajari untuk membedakannya. Di film ini, mereka bahkan digambarkan dengan tidak bisa menulis, membaca, dan berhitung. Miris memang, mereka hanya bisa mempedulikan bagaimana cara mendapatkan uang untuk makan hari ini. Dari fakta itu tentu sudah terlihat tidak adanya penerapan dari UUD 1945 yang katanya hukum dasar negara kita. Mungkin karena tak banyak orang yang hafal isi pasal-pasalnya, atau mungkin karena banyak pelajar yang tidur ketika mendapatkan pelajaran tentangnya.
            Sang sutradara sepertinya sangat berhasil menyentil perasaan penontonnya tentang kondisi Indonesia sekarang ini yang semakin memburuk. Namun kritik paling pedas ada dalam adegan di depan gedung DPR saat Muluk mengatakan bahwa di dalam gedung itu tidak boleh mencopet tapi tiba-tiba salah satu dari pencopet cilik itu bilang, “Tapi kalau korupsi nggak apa-apa kan?” dan semuanya tiba-tiba diam. Negara yang sangat kita bela ini memang lucu. Orang yang tidak punya uang mencopet dompet di pasar atau mall, namun orang yang sudah punya uang banyak tak mau kalah dan tetap mencopet uang, bukan dari dompet namun dari brankas. Film yang padat berisi ini sangat direkomendasikan untuk menggugah para pemimpin rakyat dan para pejabat untuk minimal merubah perilaku dan kinerja mereka dari sebuah karya mewah ini sehingga negeri kita menjadi negeri yang damai, aman, jujur, dan sejahtera.

Resensi Novel 24 Wajah Billy

(Judul : 24 Wajah Billy, Peresensi: Divin Nahb, Penulis : Daniel Keyes, Penerbit : Qanita, Halaman: 665 halaman)
William Stanley Milligan atau dikenal sebagai Billy atau Bill kehilangan waktunya selama enam tahun. Dan, selama masa waktu tersebut beberapa orang mengambil alih tubuhnya. Dia dibuat tidur bukan karena tanpa sebab. Semua akibat tekanan yang Billy rasakan pada dirinya sendiri. Dia merasa sangat kacau dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan sehingga dia memutuskan bunuh diri. Untunglah, saat itu Ragen muncul. Bersama Artur, Ragen menyetujui untuk membuat Billy tidak sadarkan diri.
Percayakah anda bahwa dalam dunia ini ada kasus yang menyangkut ruang lingkup psikologi yang menitikberatkan pada multi kepribadian? Jika tidak, maka tengoklah sekilas kisah 24 wajah Billy. Laki-laki kelahiran 1955 menghabiskan hidupnya untuk berbagi tempat dengan 23 orang lainnya dalam tubuhnya. Mereka tentu saja memiliki kepribadian yang berbeda. Mereka pun sangat ahli dalam beberapa bidang.
Artur berkebangsaan Inggris yang pintar dalam biologi dan kedokteran, namun memiliki pembawaan angkuh. Regan dari Yugoslavia yang memiliki kekuatan luar biasa untuk melindungi semua “keluarga”. Allen, si pandai bicara dan pelukis wajah. Tommy yang pintar dalam segala elektronik dan mampu melepaskan diri dari segala macam kunci dan ikatan simpul. Danny, si anak penakut. David, si penanggung nyeri. Christine anak termuda. Chistopher yang penurut. Adalana, si wanita lesbian. Philip dan Kevin, dua anak yang kerap membuat masalah. Walter, si pemburu binatang. April yang terobsebsi membunuh ayah tiri Billy. Samuel beragama Yahudi. Mark yang hanya seperti zombie. Steve, si peniru gelagat orang yang akhirnya menjadi si pemarah. Lee yang suka sekali mengolok-olok orang. Jason yang kerap teriak-teriak. Robert yang senang mengkhayal. Swan, si tunarungu. Timothy yang bekerja di toko bunga. Dan, terakhir adalah Sang Guru yang akhirnya datang setelah Billy menyadari tubuhnya didiami banyak orang.
Sebagai manusia normal, tentu kita akan bertanya-tanya mengapa kita melakukan sesuatu namun tidak pernah kita sadari? Dan, ketika hal tersebut berlangsung begitu lama, yang terjadi dalam diri adalah bahwa kita merasa gila dan tidak mengenal dunia sama sekali. Lalu, keputusan bunuh diri adalah jalan satu-satunya karena dalam keadaan seperti itu solusi tidak mampu dipecahkan. Jiwa terguncang dan kematian menyambut.
Tanpa disadari Billy, dirinya telah melakukan banyak tindak kejahatan karena tokoh-tokoh yang ada dalam dirinya. Billy menjadi takut, apalagi tuduhan terakhir yang nantinya akan membawa dirinya berkenalan dengan tokoh lainnya disebabkan karena 3 kasus pemerkosaan yang juga harus ditanggung olehnya. Betapa mengejutkan bagi Billy bahwa dirinya mendapat kasus berat dalam hidup. Dan tentu penjara adalah jawaban untuk kasunya ini.
Satu persatu psikiater berdatangan untuk memeriksanya sehingga mereka tau bahwa dalam diri Billy Milligan memang terdapat banyak orang. Awalnya yang diketahui adalah sepuluh orang, termasuk Billy. Mereka berlainan karakter dan membuat banyak orang tercengang. Pengacara dan penuntut Billy pun takjub melihat kenyataan yang ditunjukkan Billy Milligan. Keputusan awal pun membawa Billy ke rumah sakit Harding hingga Billy mampu didakwa atas tindak pelanggaran hukumnya di pengadilan kelak.
Di bawah pimpinan, Dr. George Harding, Jr. Billy dirawat hingga beberapa tokoh terfusi dalam dirinya. Billy menjadi sosok yang lebih kuat dari sebelumnya dan mampu menghadiri persidangan. Tapi, demi penyembuhannya, Gary Schweickart dan Judy Stevenson berusaha keras untuk memasukkan Billy ke rumah sakit, bukannya ke penjara. Dan, memang yang diinginkan kedua pembela publik tersebut dikabulkan. Athens Mental Health Center yang dipimpin Dr. David Caul membantu Billy dalam penyembuhan, meskipun tidak berhasil sempurna. Namun, di sanalah kisah Billy terkuak dan juga Billy bisa melihat dirinya yang lain lewat rekaman video. Kala itu, tentu saja Billy tidak percaya bahwa dirinya mampu menjadi diri yang berbeda. Dari aksen bicara, bahasa tubuh, serta pembawaan.
Billy menerima kenyataan bahwa dirinya memang multi kepribadian. Tapi, Billy memutuskan untuk membuat kisah hidupnya menjadi sebuah buku agar menjadi sebuah pelajaran berharga bagi beberapa orang tua yang bertindak jahat pada anak-anak mereka. Daniel Keyes sebagai penulis ditunjuk sebagai orang yang nantinya memaparkan bagaimana kisah hidup Billy Milligan dan beberapa orang yang ada dalam kehidupannya. Namun, bagaimana dia akan memulai jika tokoh dalam diri Billy hanya menyampaikan serpihan-serpihan ingatan yang mereka miliki.
Sang Guru pun muncul. Dia adalah sosok Billy utuh. Wujud kedua puluh tiga sosok alter ego yang sudah terfusi. Dia cerdas, peka, humoris, dan sangat bijaksana. Dialah yang mengajarkan semua tokoh tentang beberapa keahlian dan dialah yang mampu menceritakan semua kisah yang dialami 23 tokoh dalam satu tubuh itu. Bahwa semua tokoh itu muncul ketika Billy kecil merasa kesepian dan semakin bertambah banyak ketika ayah tirinya Chalmer Milligan melakukan kejahatan fisik dan seksual.
Kasus Billy Milligan yang menjadi sorotan tajam selalu diangkat hingga menjadi besar. Belum lagi akibat tindak kejahatan lainnya sebelum kasus pemerkosaan ini menguak yang dilakukan beberapa tokoh dalam diri Billy Milligan. Hingga akhirnya, dalam persidangan, Billy Milligan dimasukkan ke dalam Lima State Hospital for the Criminally Insane. Sebuah rumah sakit yang sungguh mirip dengan penjara. Begitu juga ketika dirinya dipindahkan ke Dayton Forensic Center. Karena ketertekanan yang sangat luar biasa, Billy Milligan pun terpecah kembali. Malah, Billy mengalami masa yang lebih parah dari tahun-tahun sebelumnya. Dan, satu persatu tokoh-tokoh kuat dalam tubuh Billy Milligan pun tampak pasrah dan bahkan menginginkan kematian. Saat itu, Sang Guru tidak ada.
Hingga buku ini diselesaikan oleh Daniel Keyes, banyak kejadian yang dialami Billy Milligan. Sang Guru menikah dengan Tanda, seorang adik perempuan dari salah satu penghuni Dayton Forensic Center. Sayangnya, karena ketertekanan, Tanda kabur dan dia membawa mobil dan semua uang yang dimiliki Billy. Hal tersebut, membuat semua tokoh dalam diri Billy Milligan kesal, namun akhirnya mereka menerima hal tersebut. Selain pernikahan, Billy Milligan masuk kembali ke Athens untuk penyembuhan dirinya di bawah terapi Dr. David Caul.
Yang unik dalam kisah Billy Milligan adalah ketika dirinya memutuskan untuk hidup sendiri dalam apartemen, bukan berarti dia hidup sendiri. Karena satu tubuhnya mewakili beberapa orang. Dewasa, anak-anak, laki-laki, maupun perempuan mendiami apartemen itu, meski yang dilihat orang adalah dia hidup sendiri. Mencengangkan, namun kisah yang mengasikkan dan pembelajaran yang berharga.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More